Loading...
ADPIKI Perkuat Kompetensi Peneliti melalui Masterclass Analisis Isi Kualitatif
Berita & Rilis Diterbitkan pada 22 August 2026

ADPIKI Perkuat Kompetensi Peneliti melalui Masterclass Analisis Isi Kualitatif

Jakarta, 21 Agustus 2026: - Asosiasi Dosen dan Peneliti Ilmu Komunikasi Indonesia (ADPIKI) memperkuat kompetensi metodologis anggotanya melalui “Masterclass ADPIKI Methodology Series #1” yang membahas penerapan analisis isi kualitatif dalam riset komunikasi pada Jumat (21/8/2026). Kegiatan yang diselenggarakan secara daring tersebut menghadirkan Wakil Ketua Dewan Pakar Pengurus Pusat ADPIKI sekaligus Ketua Program Pascasarjana Ilmu Komunikasi, Departemen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Indonesia, Dr. Eriyanto, M.Si., sebagai narasumber.
“Analisis isi kualitatif merupakan metode untuk menganalisis teks, gambar, berita, iklan, film, dan berbagai bentuk komunikasi lainnya secara sistematis dengan mengelompokkan data ke dalam kategori-kategori untuk menemukan serta menafsirkan makna yang relevan dengan pertanyaan penelitian,” kata Eriyanto.
Ia menjelaskan bahwa kategori dalam analisis isi kualitatif dapat dikembangkan secara deduktif berdasarkan teori, secara induktif berdasarkan data, maupun melalui kombinasi kedua pendekatan tersebut.
Menurut dia, analisis isi kualitatif berbeda dengan analisis isi kuantitatif, semiotika, dan analisis wacana. Analisis isi kuantitatif lebih menekankan pengukuran frekuensi dan distribusi kategori, sedangkan semiotika berfokus pada pemaknaan tanda dan analisis wacana mengkaji konstruksi bahasa, identitas, serta relasi kekuasaan.
Sementara itu, analisis isi kualitatif digunakan untuk mengidentifikasi pola, kategori, tema, dan makna dari sejumlah materi komunikasi secara sistematis, tetapi tetap memberikan ruang bagi peneliti untuk memahami konteks data.
“Analisis isi kualitatif bukan interpretasi bebas. Proses interpretasi harus dipandu oleh aturan yang jelas, mulai dari penentuan unit analisis, penyusunan kategori, uji coba pengodean, hingga penerapan kategori secara konsisten terhadap seluruh data penelitian,” ujarnya.
Eriyanto menambahkan bahwa salah satu perangkat utama dalam metode tersebut adalah kerangka pengodean atau coding frame, yang terdiri atas kategori utama dan subkategori. Kategori utama menentukan aspek yang menjadi fokus penelitian, sedangkan subkategori menjelaskan variasi makna yang lebih spesifik dalam data.
Kerangka pengodean membantu peneliti mereduksi data yang kompleks, memusatkan perhatian pada informasi yang relevan dengan pertanyaan penelitian, serta menemukan pola dan hubungan antarkategori secara lebih terstruktur.
Dalam paparannya, Eriyanto juga memperkenalkan tiga desain analisis isi kualitatif, yaitu analisis isi kualitatif berbasis struktur, analisis isi kualitatif evaluatif, serta analisis isi kualitatif untuk membangun tipe atau tipologi.
Analisis berbasis struktur digunakan untuk mengorganisasi dan menafsirkan pola tematik dalam data. Analisis evaluatif digunakan untuk menilai derajat atau orientasi suatu isi, sedangkan analisis pembentukan tipologi digunakan untuk mengelompokkan kasus berdasarkan kesamaan dan perbedaan karakteristik tertentu.
Berbagai contoh penelitian turut dibahas dalam masterclass tersebut, antara lain representasi aktivis perempuan di media sosial, performativitas gender politisi perempuan, bingkai visual kandidat politik di Instagram, hingga pembentukan tipologi film horor Indonesia.
Eriyanto menekankan pentingnya transparansi dalam setiap tahapan penelitian, termasuk menjelaskan proses pembentukan kategori, pengodean data, revisi kategori, interpretasi temuan, serta pemilihan bukti empiris.
“Kutipan bukan sekadar ilustrasi, melainkan bukti yang menunjukkan bahwa kategori dan argumen peneliti benar-benar berakar pada data,” katanya.
Melalui Methodology Series #1 tersebut, ADPIKI menyediakan ruang penguatan kapasitas bagi dosen dan peneliti agar mampu menghasilkan penelitian kualitatif yang sistematis, transparan, kontekstual, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah (**).